Tampilkan postingan dengan label pendidikan moral. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan moral. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Juli 2013

Pendidikan Moral

PENTINGNYA PENDIDIKAN ??????
Satu pertanyaan yang sangat menghantuiku. Mengapa banyak sekali masyarakat Indonesia yang bertingkah laku dan berkelakuan seperti hewan??
Padahal tidak jarang dan bahkan
bnayak para pelaku itu mempunyai
pendidikan yang tinggi. Kalau dilihat
dari faktor pendidikan, seharusnya
seseorang yang mempunyai pendidikan tidak akan bertindak yang bukan-bukan dan bisa menjadi contoh bagi orang lain disekitarnya yang nota bene kurang dalam hal pendidikan. Tapi mengapa kelakuan atau akhlak mereka tidak lebih atau bahkan jauh berada dibawah dari
orang yang tidak berpendidikan??
Pendidikan di Indonesia pada saat ini cenderung lebih mementingkan aspek akademis tanpa menghiraukan akhlak dan moral para peserta didik. Hal ini bisa kita lihat di sekolah-sekolah dan di
universitas-universitas. Sebagai contoh, seseorang murid SMU yang nakal dan suka dengan free seks dapat lulus dari SMU dan meneruskan keperguruan tinggi hanya karena nilainya mencukupi
standar kelulusan yang sudah
ditetapkan oleh pemerintah.
Coba kita bayang kan apa yang akan
terjadi apabila Negara Indonesia ini
dipimpin oleh orang yang hanya
mempunyai nilai akademis yang tinggi tapi tidak bermoral. apa yang akan terjadi dengan negara ini??
Pendidikan Indonesia menganut atau
lebih condong pada sistem pendidikan liberal yang mengesampingkan pendidikan moral dan hanya mementingkan pendidikan akademis.
Kapan Indonesia bisa maju kalau
pendidikan moral di semua sekolah
ditiadakan?? apakah Indonesia bisa
maju kalau hanya mengandalkan pada kepintaran akademis??

   Pendidikan Moral Manusia

Mengingat perkembangan moral
manusia pada bahasan yang lalu, maka tentu akan ada sebuah proses yang tak lepas dari perkembangan moral itu sendiri. Proses yang dimaksud adalah yang disebut dengan pendidikan. Pendidikan moral sangatlah perlu bagi manusia, karena melalui pendidikan perkembangan moral diharapkan
mampu berjalan dengan baik , serasi
dan sesuai dengan norma demi harkat dan martabat manusia itu sendiri.
Di Indonesia pendidikan moral telah ada dalam setiap jenjang pendidikan.  Di Sekolah Dasar perkembangan pendidikan moral tak pernah beranjak dari nilai-nilai luhur yang ada dalam tatanan moral bangsa Indonesia yang termaktub jelas dalam Pancasila sebagai dasar Negara.  Pendidikan Moral Pancasila, yang sejak dari  pendidikan dasar telah diajarkan tentu memiliki tujuan yang sangat mulia, tiada lain untuk membentuk anak negeri sebagai individu yang beragama, memiliki rasa kemanusiaan, tenggang
rasa demi persatuan, menjunjung tinggi nilai-nilai musyawarah untuk
kerakyatan serta berkeadilan hakiki.
Berangkat dari tujuan tersebut diatas
maka dalam pelaksanaannya terdapat tiga faktor penting dalam pendidikan moral di Indonesia yang perlu diperhatikan yaitu :
1.  Peserta didik yang sejatinya memiliki tingkat kesadaran dan dan perbedaan perkembangan kesadaran moral yang tidak merata maka perlu dilakukan identifikasi yang berujung pada sebuah pengertian mengenai kondisi perkembangan moral dari peserta didik itu sendiri.
2.  Nilai-nilai (moral) Pancasila,
berdasarkan tahapan kesadaran dan
perkembangan moral manusia maka
perlu di ketahui pula tingkat tahapan
kemampuan peserta didik. Hal ini
penting mengingat dengan tahapan dan tingkatan yang berbeda itu pula maka semua nilai-nilai moral yang
terkandung dalam penididkan moral
tersebut memiliki batasan-batasan
tertentu untuk dapat terpatri pada
kesadaran moral peserta didik.  Dengan kata lain, kalaulah pancasila memiliki 36 butir nilai moral, maka harus difahami pula proses pemahaman peserta didik berdasar pada tingkat kesadaran dan tingkat kekuatan nilai kesadaran itu sendiri.
3.  Guru Sebagai fasilitator, apabila kita kembali mengingat teori perkembangan moral manusia dari Kohlberg dengan 4 dalilnya maka guru seyogyanya adalah fasilitator yang memberikan kemungkinan bagi siswa untuk memahami dan menghayati nilai-nilai pendidikan moral itu.
Dengan memperhatikan tiga hal diatas maka proses perkembangan moral manusia yang berjalan dalam jalur pendidikan tentu akan berjalan sesuai dengan tahapan perkembangan moral pada tiap diri manusia.

Kamis, 11 Juli 2013

Pendidikan Moral dan Etika Sejak Dini: Mungkinkah?

Mungkinkah pendidikan moral dan etika
sejak dini? Ya, tentu sangat mungkin.
Tetapi tentu tidaklah ”seberat” judul di
atas dan diberikan melalui kegiatan anak
sehari-hari. Pasti kita semua paham
bahwa setiap kegiatan sejak bangun pagi
sampai tidur malam,  sebetulnya
merupakan bagian dari proses pendidikan
yang dialami anak.

Termasuk di dalamnya adalah
pengenalan moral dan etika. Proses
pembiasaan pada anak  tergantung dari
contoh-contoh  yang dicerap dalam
kesehariannya. Karena itu, penting
disadari bahwa sebaik-baiknya suatu
pengajaran, contoh-contoh lingkungan
terdekat merupakan bagian terpenting
terutama bagi anak usia dini.

Terima kasih, Maaf dan Tolong

Salah satu inti pendidikan moral
dan etika adalah penghargaan terhadap
sesama. Pembiasaan pada anak sejak
dini untuk mengucapkan terima kasih,
maaf dan tolong merupakan bagian
penting dari penanaman penghargaan
pada sesama. Tiga kata yang sederhana
ini merupakan dasar dari kegiatan
bersosialisasi anak kelak. Anak diajarkan
untuk mengetahui kapan harus minta
maaf, mengucapkan terima kasih dan
meminta tolong. Cara pengucapan
dengan nada baik menjadi salah satu
bagian pembiasaan ini.  Sangat sulit
mengharapkan anak terbiasa
mengucapkan tiga kata di atas itu bila
orang-orang dewasa di sekitarnya jarang
berterima kasih, tidak mengucapkan kata
”tolong” ketika meminta tolong pada
orang lain, dan tidak meminta maaf saat
melakukan kesalahan. Contoh menjadi
lebih buruk ketika oarng dewasa
memperlihatkan sikap memilih-milih
dalam mengucapkan the three magic
words itu.

Keterampilan Berkomunikasi

Penghargaan sesama juga bisa dilakukan
melalui keterampilan anak dalam
berkomunikasi. Anak belajar berbicara,
mendengarkan, bertanya dan juga
menjawab. Berbicara bisa jadi lebih
mudah dibanding mendengarkan. Karena
itu penekanan secara khusus pada
keterampilan mendengarkan merupakan
hal penting dalam keterampilan
berkomunikasi pada anak. Tetapi, sekali
lagi, contoh di lingkungan bisa
memudahkan atau justru menyulitkan
anak untuk melatih keterampilannya.
Seringkali tanpa disadari orangtua
memotong cerita anak atau memandang
ke arah lain saat berbicara dengan anak.
Padahal ketika hal itu terjadi, pesan yang
ditangkap anak adalah ia tidak sepenting
hal lain yang saat itu dilihat oleh
orangtuanya.

Berjabat Tangan

Kemampuan anak untuk berjabat tangan
erat, menatap orang yang dijabat,
menyebutkan nama dan memberikan
senyumnya merupakan hal lain yang bisa
diajarkan pada anak sejak dini. Sekaligus,
sesungguhnya, mengembangkan
kepercayaan dirinya. Tidak mudah bagi
anak  untuk bisa melakukan hal tersebut
sekaligus. Tetapi, bilamana penanaman
kebiasaan ini dilakukan dengan
konsisten, maka sejalan dengan
pengikatan keterampilan
berkomunikasinya, anak sudah
meningkatkan kepercayaan dirinya.

Hal-hal di atas merupakan sebagian kecil
saja  dari kegiatan sehari-hari yang bisa
menanamkan penghargaan anak pada
lingkungannya. Dari permainan yang
dilakukannya dengan teman, anak belajar
untuk mentaati peraturan dan
menghargai kesempatan bermain yang
dimilikinya. Anak juga belajar menghargai
mainan dan bukunya ketika dibiasakan
menyimpan pada tempatnya.

”Menghargai” merupakan kata kunci
proses pembelajaran di atas. Berlaku
bukan hanya pada anak, tetapi lebih pada
orangtua. Seberapa jauh kita sudah
menghargai semua detik yang masih kita
miliki untuk menyiapkan anak menjadi
manusia yang bisa menghargai
lingkungannya?